Selasa, 25 Juni 2013

pendidikan kewarganegaraan-pancasila sebagai paradigma pembagunan


            PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN
A.      Pengertian paradigma
kata paradigma (inggris : paradigm) mengandung arti model ,pola, atau contoh. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, paradigma diartikan sebagai seperangkat unsur bahasa yang sebagian bersifat kongstan ( tetap) dan sebagian berubah-ubah.
Paradigma juga dapat diartikan sebagai suatu gugusan system pemikiran.
Menurut THOMAS S. KHUN dalam buku the structure of scientific revolution , paradigma adalah asumsi-asumsi teoritis yang umum (merupakan suatu sumber nilai) yang merupakan sumber hukum, metode serta cara penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, cirri dan karakter ilmu pegetahuan tersebut.
Paradigma juga dapat diartikan sebagai cara pandang, nilai-nilai, metode-metode, prinsip-prinsip dasar atu cara memecahkan masalah yang dianut oleh suatu masyarakat pada masa tertentu.
Paradigma yaitu anggapan-anggapan dasar yang membentuk kerangka keyakinan.

B.        Pengertian pembangunan

pembangunan adalah usaha bangsa untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup masyarakat sehingga menjadi lebih baik. Peningkatan mutu ini  tidak terbatas hanya pada sector ekonomi saja, tetapi juga seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalamnya tercakup tiga proses sekaligus, yaitu emansipasi bangsa, moderenisasi, dan humanisasi.

Emansipasi bangsa, artinya usaha bangsa untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada bangsa lain agar dapat berdiri sendiri dengan kekuatan sendiri tanpa melepaskan semangat kerja sama yang produktif. Dalam emansipasi itu, bangsa Indonesia mempunyai kesadaran, kebebasan serta otonomi dalam mengambil keputusan dan pilihan berdasarkan kepentingan nasional.
Modernisasi adalah upaya untuk mencapai taraf dan mutu kehidupan yang lebih baik.
Humanisasi bermakna bahwa pembangunan pada hakikatnya adalah untuk manusia seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia.
Tujuan pembangunan sendiri sudah termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV.








C.      Pancasila sebagai paradigma pembangunan

Sejak tanggal 18 agustus 1945, bangsa Indonesia telah sepakat untuk menerima pancasila sebagai dasar Negara,sebagai perwujudan falsafah hidup bangsa dan sekaligus ideology nasional. Pancasila dalam paradigma pembanguna sekarang dan dimasa yang akan datang bukanlah lamunan kosong (utopis) akan tetapi menjadi suatu kebutuhan sebagai pendorong semangat pentingnya paradigma pembangunan yang baik dan benar disegala bidang kehidupan. Jati diri atau kepribadian bangsa Indonesia yang religious dan ramah tamah, kekeluargaan, dan musyawarah, serta solidaritas yang tinggi akan mewarnai jiwa pembangunan nasional baik dalam perencanaan,pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, maupun dalam evaluasinya.
Dengan demikian, pancasila merupakan paradigma pembangunan , artinya pancasila berisi anggapan-anggapan dasar yang merupakan kerangka keyakinan. Kerangka keyakinan tersebut berfungsi sebagai acuan, kiblat, dan pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pemanfaatan hasil-hasil pembangunan di Indonesia.
Posisi pancasila sebagai paradigma pembangunan membawa konsekuensi tertentu yaitu, keberhasilan pembangunan di  Indonesia pertama-tama harus diukur dari kesesuaiannya dengan pancasila. Itu berarti pembangunan di Indonesia tidak boleh bersifat pragmatis, dalam arti hanya mementingkan tindakan nyata dan menafikan pertimbangan etis. Juga, tidak boleh bersifat ideologis, dalam arti secara mutlak melayani ideologi tertentu dan menafikan manusia nyata.melainkan, pembangunan mesti ditujukan untuk melayani manusia-manusia nyata denmgan segala aspirasi dan harapan-harapannya.











                                PACASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN


             pancasila3.jpg

OLEH :


NUR FITRIANA SYARIF


XII IPA 1

SMA NEGERI 3 TAKALAR  MODEL SKM- PBKL- PSB


Minggu, 23 Juni 2013

waiting for you :)


Dan pada akhirnya dia kembali menjadi mlikku lagi tanpa ku harus menitihkan air mata bodoh seperti kisah2 sebelumnya, entahlah apa yang dia harapkan dariku, hanya manusia yang masih beruntung bisa bertahan di pijakan yang amat keras ini.. tapi dia selalu meyakinkanku bahwa aku akan menjadi yang terkhir untuknya, walau sebenarnya aku kadang sedikit tertawa geli dan berekspresi aneh saat mendengarnya,, hanya saja aku kadang takut jika harus mengucapkan langsung di hadapannya, Tp biarlah semuanya hanya akan menjadi perhiasan dunia, setidaknya di tempatku saat ini ada sedikit keindahan untuk diriku sendiri walau aku juga tidak dapat pungkiri aku membutuhkannya, duniaku sepi tanpanya…

Aku tidak pernah menganggap segalanya serius tapi akupun tidk menjadikannya hanya bahan candaan, aku membawa semuanya mengalir seperti  air dimana ia akan berhenti saat ia menemukan muaranya sendiri dan di saat itulah semua akan menjadi nyata dalam cahaya yang idah, menjadikan semuanya terasa seperti mimpi yang akhirnya terwujud dan menunggu ia akan menyatakan, you are mine today. Tomorrow, ever, and forever… you had special place in my hearth, and only you who have this hearth… please don’t go anywhere before I go on first…

Saat ini aku hanya bias menunggu, karena ia menginginkanku untuk itu, aku bahagia ia masih mengingatku, walau sebenarnya dalam benakku aku selalu bertanya sendiri mengapa aku bisa sekuat ini bertahan menunggu ia kembali, bukan kembali bersamaku karena ia telah bersamaku tapi menunggu ia menggenggam tanganku dan membimbing langkahku.

Kamu selalu meyakinkanku, tapi sampai saat ini aku tidak pernah punya alasan mengapa aku tak bisa melepaskanmu, mengapa aku tak bisa berjalan sendiri tanpamu dan mengapa aku tak bisa melupakan setiap pesan singkat darimu. Ini cukup membingungkan tapi inilah aku, terlalu lemah tanpa hadirnya kamu di sini, tepat di samping aku,
Hari-hariku berlalu begitu saja saat ini tanpa sedikit pun hal yang menarik  jauh berbeda sebelum jarak kita menjadi  sejauh ini. Aku hanya bisa menikmati apa yang kamu sukai, karena dengan itu aku kembali bisa  menangkan perasaanku saat ini. Aku mulai menghitung hari sampai  saat itu tiba dan aku kembali melihat senyum itu, senyum tulus dari seseorang yang aku rindukan jauh dari yang ia tau.

Juni 2013 anhaa D.A.W


Sabtu, 23 Maret 2013

a dream


orang miskin gak usah sekolah! Masih teringat aku akan kalimat tadi, entah apa yang ada di hatinya hingga membuatnya lupa bahwa dia tak lebih baik dari seorang anak yang telah ia hancurkan semua harapannya.
Anak itu tak pernah mengalihkan pandangannya pada sebuah gedung yang di penuhi dengan manusia-manusia beruntung, dia selalu membayangkan andai dia ada di bangunan sederhana itu,
Tak ada seorangpun yang memperdulikannya, semuanya sibuk dengan aktivitasnya. Setiap pagi dia sudah berada di tempat itu dan ketika matahari sudah sangat terik di pertengahan hari dia pun beranjak dari tempatnya lalu menapakkan kakinya di tepian jalan bersama kawan-kawannya.
Dia sesekali memetik dawai gitar kecilnya yang ia dapat dari tempat pembuangan terakhir, dia bernyanyi bercanda ria bersama kawannya sembari menjulurkan tangannya pada sebuah mobil merah yang sangat mewah.
Seperti orang-orang kaya pada umumnya yang sangat perhitungan memberikan sepeser uangnya untuk musisi kecil itu. Memang dia terlalu tega membiarkan musisi kecil itu menarik kembali uluran tangannya dengan sia-sia.
Tapi dia kembali tersenyum lebar dan bernyanyi memekikkan suara nan indahnya, tak terasa air mataku menetes melihat musisi kecil itu.
Setelah pekerjaanya hari itu selesai dia kembali ke gubuknya menghitung hasilnya, dan menyisakan utuk makan malamnya, dia juga tak pernah lupa untuk menambah tabungannnya berharap uangnya cukup untuk ia berada di bangunan itu.
Kadang-kadang dalam gubuknya itu dia menagis sendiri menahan pilu yang dilaluinya. Dia tak pernah patah semangat hanya karena omongan yang dilontarkan lelaki berjas tadi, dia tetap tersenyum meski air matanya tak henti-hentinya mengaliri pipinya yang mungil. “aku tidak takut bermimpi besar sebab orang yang tak punya mimpi berarti tak punya cita-cita dan masa depan” itulah yang sering dia ucapkan kala ia merasa sedih dengan kisahnya…

                                                                                                                                                            “Mimpi”


hilang


Senja ini, aku merasakan kehilangan sosok yang selama ini menemaniku, entah hanya perasaan sementara tapi aku merasakan sakit yang teramat dalam sedang aku sendiri melihatnya tak pernah.
Tapi apa yang sedang tersimpan dibatinku ini? Aku merasakan kehilangan sebagian dari hidupku, sebagian dari pandanganku, pendengaranku, bahkan perasaanku.
Setiap kali ku berada di bawah cahaya sang senja, di saat itu juga aku merasakan kegalauan dalam batinku seakan semuanya terlewat begitu saja, memoriku tak begitu jelas menyimaknya.
Satu hal yang membuatku masih menyimpan tanya dalam batinku, akankah ini nyata atau hanya ilusi semata. Tapi bukankah setiap bayangan akan tertoreh kenyataan, entahlah.
Tak dapat ku pungkiri ingatanku masih saja di penuhi tentangnya,ingin ku putar kembali waktu agar ku dapat menata kembali yang tlah berlalu terlupakan.
Mungkinkah semua yang terjadi hanyalah kekonyolan yang tak ada habisnya, aku terlalu serius memandang setiap jalan dalam hidupku sampai aku tak dapat melupakan dia yang telah tinggal dibatinku.
Aku lengah dalam permainan yang aku buat sendiri, aku tidak tahu lagi siapa yang akan terlampau seketika aku tak kuat lagi menahan beban perasaan yang tlah melekat dalam sukma.
Akankah ada cahaya terang dibalik ini atau hanya tersisa senja kelabu yang akan menari-nari di atas kesedihan yang teramat perih.
Setiap kali aku mengingat kesalahan yang tlah kuperbuat, aku merasakan dunia berpaling dariku tak menghiraukanku lagi bahkan tak lagi kudengar suara indahnya yang seakan mengingatkanku.
Aku merasa bintang tak lagi di pihakku, senja tak lagi menampakkan keindahannya di mataku bahkan terangnya bulan tak lagi menghiburku, hanya malam gelap nan dingin teman seperjalananku.
TUHAN…inikah suratan yang engkau berikan kepadaku,,,
Ku harap ridhaMU di setiap longkahku …


                                                                                                                                                         “Hilang”